Bahasa Prancis Masuk Sekolah Indonesia? Begini Tanggapan Mahasiswa
- account_circle Bagus Santoso
- calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bogorhitz.com, Bogor – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menginstruksikan agar pembelajaran bahasa Prancis diperluas di seluruh jenjang pendidikan Indonesia saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Paris, Prancis, Kamis (28/5) lalu.
Instruksi tersebut disampaikan dalam pertemuannya dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama pendidikan serta mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan global di masa depan.
Dalam pidatonya di Istana Élysée, Paris, Prabowo menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Prancis dinilai penting untuk mendukung hubungan bilateral Indonesia dan Prancis yang saat ini semakin berkembang, khususnya di bidang pendidikan, sains, teknologi, hingga riset. Ia bahkan menyebut telah menginstruksikan agar seluruh tingkatan sekolah di Indonesia mempelajari bahasa Prancis sebagai langkah strategis menghadapi tantangan dunia ke depan.
Kebijakan tersebut langsung memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa. Sebagian menilai langkah itu dapat membuka peluang baru bagi generasi muda Indonesia, sementara sebagian lainnya mempertanyakan relevansi dan kesiapan penerapannya di dunia pendidikan nasional.
Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), Ardian Hadiani Arief, memandang kebijakan tersebut sebagai peluang positif bagi pelajar Indonesia, khususnya bagi mereka yang memiliki minat dan bakat dalam bahasa asing namun terkendala kondisi ekonomi.
“Baik untuk anak-anak Indonesia. Tidak semua orang punya biaya untuk belajar bahasa Prancis. Bisa jadi banyak yang sebenarnya berbakat tetapi tidak punya kesempatan untuk mengenalnya,” ujarnya saat diwawancarai via WA, Senin (1/6).
Sementara itu, Bayu Iqsan Julianto yang juga seorang mahasiswa, secara tegas menolak jika pembelajaran bahasa Prancis diwajibkan di seluruh sekolah. Menurutnya, ada beberapa persoalan mendasar yang perlu dipertimbangkan terlebih dahulu.
Ia menilai bahasa Inggris masih menjadi kebutuhan utama di dunia industri Karena itu, peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris dinilai lebih mendesak dibanding menambah bahasa asing baru ke dalam kurikulum.
”Ngga relevan sama industri sekarang yg mayoritas lebih menggunakan bahasa inggris,” ungkapnya saat dimintai pendapat, Senin (1/6).
Bayu juga menyoroti masih rendahnya kemampuan bahasa asing sebagian besar pelajar Indonesia. Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris saja masih perlu ditingkatkan sebelum menambah pembelajaran bahasa asing lainnya.
Meski demikian, Bayu tidak menolak sepenuhnya pembelajaran bahasa Prancis. Ia menilai bahasa tersebut tetap dapat diperkenalkan kepada siswa melalui kegiatan pilihan atau ekstrakurikuler.
“Kalau untuk kegiatan ekstrakurikuler mungkin boleh, tapi kalau sampai diwajibkan saya rasa belum saatnya,” ujarnya.
Sebelumnya, gagasan penambahan bahasa asing di sekolah juga sempat menjadi perhatian publik ketika Presiden Prabowo menyampaikan rencana memprioritaskan pembelajaran bahasa Portugis pada tahun 2025. Sejumlah pengamat pendidikan saat itu mempertanyakan urgensi kebijakan tersebut, terutama terkait ketersediaan guru dan kesiapan sistem pendidikan nasional. Di sisi lain, data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan masih banyak sekolah yang belum memiliki tenaga pengajar bahasa Inggris secara memadai.
Perdebatan mengenai pembelajaran bahasa Prancis di sekolah pun diperkirakan akan terus berkembang. Sebagian pihak melihatnya sebagai langkah strategis dalam memperluas wawasan global generasi muda Indonesia, sementara yang lain menilai pemerintah perlu lebih dulu memastikan kesiapan kurikulum, tenaga pendidik, serta kebutuhan dunia kerja sebelum menerapkannya secara luas.
- Penulis: Bagus Santoso

Saat ini belum ada komentar