Terobosan Dakwah Kultural: Muhammadiyah Luncurkan KucingMu
- account_circle Bagus Santoso
- calendar_month Senin, 3 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bogorhizt.com, Bogor — Pengejawantahan nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin rupanya melampaui batas hubungan antarmanusia. Pada Ahad (5/7), halaman Gedung Muhammadiyah DIY yang berlokasi di Jalan Gedongkuning No. 130 B, Yogyakarta, mendadak riuh oleh meongan puluhan hewan berbulu. Di sanalah sejarah baru tercetak lewat peresmian Komunitas Kucing Muhammadiyah (KucingMu) yang diinisiasi oleh Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY.
Tak sekadar meresmikan ruang kumpul bagi para pecinta hewan, acara ini dirangkai dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi puluhan kucing guna memperingati Hari Zoonosis Sedunia. Langkah taktis ini menjadi bukti konkret persyarikatan dalam merangkul komunitas hobi sekaligus mempertebal literasi kesehatan fauna di ruang publik.
Cap Tapak Kaki di KTAM: Kucing Bernama Messi Jadi Anggota Nomor Wahid
Gebrakan paling menyedot perhatian publik dari lahirnya komunitas ini adalah peluncuran Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) yang dirancang secara khusus untuk hewan peliharaan. Sebagai bentuk otentikasi identitas, kartu ini dibubuhi cap tapak kaki kucing yang menggemaskan.
Seekor kucing bernama Messi menorehkan rekor sebagai penerima KTAM Kucing nomor satu. Hewan kesayangan milik Wakil Ketua PWM DIY, Ridwan Furqoni, tersebut turut hadir menjajal fasilitas medis yang disediakan panitia.
Menyikapi inovasi ini, Ridwan memberikan apresiasi yang sangat tinggi. Ia menilai pembentukan komunitas ini sangat relevan dan jeli melihat realitas sosiologis, mengingat tingginya jumlah warga persyarikatan yang memelihara kucing. Lebih dari sekadar ajang unjuk hobi, ia menaruh harapan agar wadah ini mampu memantik empati umat Islam terhadap hak hidup seluruh makhluk ciptaan Allah.
Kampanye One Health dan Sinergi Lintas Kampus
Di balik keunikan KTAM yang viral, esensi acara ini berakar kuat pada gerakan kepedulian medis. Digawangi oleh Bidang Kesehatan DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DIY yang berkolaborasi dengan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) DIY, layanan yang diberikan pada akhir pekan itu terbilang sangat komprehensif.
Tercatat 60 ekor kucing mendapatkan layanan general check-up, konsultasi intensif bersama dokter hewan, pembagian suplemen, obat cacing dan kutu, hingga penanganan noninvasif lainnya.
Ketua Bidang Kesehatan DPD IMM DIY, Afghan Azka Falah, memaparkan bahwa agenda ini merupakan manifestasi riil dari pendekatan One Health. Konsep global ini menitikberatkan pada jalinan yang tak terpisahkan antara kesehatan manusia, hewan, dan kelestarian ekosistem.
Menurut Afghan, memberikan afeksi kepada hewan peliharaan harus diiringi dengan tanggung jawab medis. Merawat kesehatan kucing adalah strategi preventif yang sangat esensial untuk membendung ancaman zoonosis, mata rantai penularan penyakit dari satwa ke manusia.
Demi menjamin mutu pelayanan, acara ini didukung oleh ekosistem akademik yang solid. Tenaga medis profesional diterjunkan langsung, berkolaborasi dengan mahasiswa Kedokteran Hewan dan Teknologi Veteriner Universitas Gadjah Mada (UGM), serta melibatkan barisan kader kesehatan dari Program Studi Farmasi UGM, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Menembus Sekat Ruang Publik Lewat Dakwah Persyarikatan
Pendekatan kultural yang diusung oleh LDK PWM DIY membawa napas segar bagi strategi perluasan dakwah masa kini. Melalui pendataan awal via penerbitan KTAM Kucing, pemetaan warga Muhammadiyah yang memiliki hewan peliharaan kini bisa dilakukan secara organik dan sistematis.
Ketua LDK PWM DIY, Ananto Isworo, menegaskan bahwa komunitas ini didesain sebagai jembatan silaturahmi yang strategis. Dakwah tidak melulu harus berpusat di mimbar masjid, melainkan bisa melebur dalam frekuensi hobi yang positif.”Kami berharap KucingMu dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi lahirnya komunitas-komunitas positif lainnya di lingkungan Muhammadiyah,” ujar Ananto, seperti yang dirilis dari laman resmi Muhammadiyah.
Melalui kepeloporan di Yogyakarta ini, peta jalan dakwah persyarikatan terbukti mampu beradaptasi dengan tren gaya hidup tanpa harus menanggalkan prinsip syariat. Eksistensi Komunitas Kucing Muhammadiyah ke depannya tak sekadar dituntut untuk menjadi titik kumpul para penikmat hewan berbulu, melainkan harus terus menjadi motor penggerak literasi kesejahteraan hewan yang berkelanjutan di tengah dinamika masyarakat modern.
- Penulis: Bagus Santoso

Saat ini belum ada komentar